Home Seminar Menjadi Pribadi yang Menarik, Anggun dan Simpatis
 

Ikut Berpartisipasi

Mari sukseskan program-program KHARISMA dengan partisipasi Anda melalui Nomor Rekening :

Bendahara KHARISMA

Septi Panca Sakti
Konto Nr. 161 91 54
BLZ  613 700 24
Deutsche Bank Aalen

Kharisma di Facebook

Sahabat Kharisma

Ikut Milis Kharisma

Tempat sahabat-sahabat KHARISMA berbagi, bertukar pikiran, wawasan, pengalaman dan ilmu pengetahuan.

 

Kegiatan seminar KHARISMA merupakan kontribusi KHARISMA dalam membantu mencerdaskan perempuan Indonesia. Acara seminar KHARISMA senantiasa menghadirkan pakar-pakar ilmu di bidangnya. Tujuannya mendorong pengembangan potensi perempuan Indonesia di seluruh dunia.

Seminar Online diadakan secara rutin minimal 2 bulan sekali. Sedangkan jenis seminar lainnya, Seminar Milis dan seminar darat, selalu diusahakan untuk diselengarakan minimal setahun sekali. Tema yang dibawakan sangat beragam, mulai dari masalah pengembangan diri wanita, kesehatan wanita, sekolah dan karir wanita, wanita sebagai ibu, juga wanita sebagai manager dalam keluarga.

Tertarik  dengan masalah tertentu? Kirimkan ide dan masukan Anda ke humaskharisma[at]yahoo.de

Menjadi Pribadi yang Menarik, Anggun dan Simpatis PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 31 January 2010 09:52
Resume Seminar Milis KHARISMA 2010
Nara sumber: Ibu Ratih Sanggarwati

Semilis yang merupakan singkatan dari Seminar di Milis merupakan program tahunan KHARISMA yang sudah berjalan cukup lama. Semilis tahun ini merupakan semilis ke-8 yang diselenggarakan oleh KHARISMA Woman & Education. Semilis kali ini mengangkat tema 'Menjadi Pribadi yang Menarik, Anggun dan Simpatis' dengan narasumber seorang yang tengah menggeluti ilmu Kepribadian, Model dan penulis yaitu Ibu Ratih Sanggarwati.

Semilis berlangsung selama satu pekan yaitu tanggal 18 – 24 Januari 2010 melalui milis : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . Dengan jumlah peserta sebanyak 76 orang dari berbagai macam negara. Peserta mendapatkan makalah dari narasumber di hari pertama, dan di hari pertama hingga hari ketiga semua peserta diperbolehkan untuk mengajukan pertanyaan melalui milis. Dihari keempat hingga hari keenam diisi dengan diskusi seputar tema yang diangkat. Adapun hari ke tujuh merupakan acara puncak, dimana Ibu Ratih Sanggarwati selaku narasumber semilis kali ini hadir untuk memberikan jawaban melalui fasilitas Yahoo Messenger. Acara ini juga dipancar luaskan oleh Qommunity Radio Jerman melalui www.qommunityradio.net yang bekerja sama dengan KHARISMA dalam menyukseskan acara semilis.

Karena keterbatasan waktu, maka dari sekian banyak pertanyaan yang masuk ke panitia semilis melalui milis seminar kharisma hanya 12 pertanyaan yang bisa dijawab oleh Narasumber kita, yaitu:

Pertanyaan 1

Bagaimana menjaga hubungan baik dengan teman-teman lama. Apakah 'keep in touch' dalam arti, selalu menelpon atau mengirim email atau 'facebook'-an adalah sangat penting? ataukah cukup di moment-moment terterntu saja? Apakah dengan demikian tidak akan dianggap sombong atau tlh melupakan? ( ZF, Dresden-Jerman)

Jawaban :
Dalam berteman, ada teman yang kita harus menyapanya secara langsung atau visual. Misalnya melalui email, Facebook, SMS atau Telpon. Sebagai seorang muslimah kita dapat menyapa teman-teman kita lewat do'a2 kita, ketika kita berdo'a untuk saudara-saudara atau teman-teman kita, maka kita ataupun mereka akan merasakan ikatan batin yang sangat kuat. Berdo'a semoga ikatan pertemanan kita akan tetap baik dan terjaga. Sehingga meskipun kita jarang bersua tak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukan keep in touch, minimal mendo'akan mereka.

Pertanyaan 2

Memberi kesan baik pada saat perkenalan pertama dengan rekan kerja atau kolega adalah lebih mudah menurut saya, tapi bagaimana menjaga agar kesan baik itu terus berlanjut? (ZF, Dresden-Jerman)

Jawaban :
Memberikan kesan pertama justru sebenarnya tidaklah mudah, tapi ketika kita sudah berhasil memberikan kesan pertama yang baik, maka cara mempertahankannya pada menit-menit selanjutnya adalah dengan tetap menjadi pribadi yang menarik. Diantaranya adalah dengan : Pertama, jangan menjadi orang yang membosankan. Mulailah asertif terhadap teman bicara, banyak mendengarkan dan mencoba memberikan jawaban2 yang dapat memperpanjang pembicaraan. Kedua, Berwawasan yang artinya kita paham akan kondisi di sekeliling kita, tahu apa yang tabu untuk dibicarakan. Jadi 5 menit pertama adalah penting, 10 menit kemudian adalah awal dari sebuah persahabatan. Seorang yang baik akan terlihat dari cara dia berbicara, gerak-gerik atau bahasa tubuhnya dan cara dia memandang saat bicara dan tidak menguasai pembicaraan.

Pertanyaan 3

Lingkungan kerja saya (saat ini sedang ambil Doktoral program) mayoritas orang Jerman. kemampuan bahasa Jerman saya sangat terbatas dan mereka cenderung ingin menggunakan bahasa Inggris dengan saya (mereka bilang untuk mempraktekan kemampuan bahasa inggris mereka juga). Alhasil, bahasa jerman saya juga jadinya tidak ada peningkatan. Masalahnya, dalam acara2 di institute, makan siang bersama sampai dengan pesta tahun baru misalnya, mereka cenderung berbahasa Jerman sesama mereka dan sangat sulit untuk saya untuk terlibat secara aktif. Bagaimana saya menyikapi hal ini? seringkali saya dan 1 orang asia lainnya hanya menjadi pendengar pasif atau jadinya cenderung menghindari acara2 bersama tersebut. Apakah itu sah2 saja ya dalam ilmu kepribadian? atau mungkin ada tips lain yg bisa saya coba terapkan. (Ww, Stuttgart- Jerman)

Jawaban :
Untuk tidak datang dalam memenuhi undangan-undangan atau menghindari acara-acara disekitar kita akan menjadikan diri kita kurang pergaulan. Dalam ilmu kepribadian hal ini seharusnya tidak dilakukan. Dalam berteman dengan orang-orang yang berbeda bahasa dengan kita, sebaiknya kita menerangkan dari awal bahwa kita masih dalam kondisi mempelajari bahasa mereka dan tentu saja belum lancar. Terangkan juga kalau dengan bahasa inggris kita lebih bagus, jika mereka bersedia silahkan menggunakan bahasa inggris. Namun hal yang terpenting adalah, Kita harus mempraktekkan bahasa apapun yang kita pelajari dengan lawan bicara kita sesuai dengan bahasa mereka. Pupuklah rasa percaya diri, meskipun belum lancar, mereka akan tahu bahwa bahasa mereka bukanlah bahasa ibu kita. Jadi wajar kalau kita tidak sefasih mereka.

Pertanyaan 4

Mbak Ratih, bagaimana menghadapi lawan bicara pria yang ge-er lalu cenderung tidak sopan terhadap kita karena kita tadinya mencoba untuk bermanis muka/sikap untuk menghormatinya? Ini saya nanya beneran lho... bukan ge-er juga.. hehe.. (Canti, Kassel-Jerman)

Jawaban :
Kadang-kadang ada orang yang tidak paham ketika kita menghormati dia dengan bahasa yang biasa, yang membuat di GeEr atau tidak sopan terhadap kita. Ketika kita merasa risih dengan itu, maka kita harus meningkatkan bahasa kesopanan kita sehingga dia merasa jengah dengan sendirinya. Misalnya ketika dia bercanda tidak sopan, kita harus melakukan pertanyaan ulang kepadanya seolah-olah kita tidak mendengarkan apa yang sedang dia bicarakan. Biasanya seorang pria akan memperbaiki pembicaraannya. Jadi ini adalah suatu trik yang membuat lawan bicara kita dapat memperbaiki sikap atau pembicaraannya. Ketidaksopanan akan berhenti dengan sikap kita yang tegas dan sopan.

Pertanyaan 5

Saat berkenalan, terutama di lingkungan pekerjaan atau akademis, penyebutan jabatan atau tingkat pendidikan diperlukan untuk menjelaskan siapa kita. Namun di lingkungan pergaulan sehari-hari, hal itu masih merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, bukan untuk ditonjolkan. Padahal kadang kala perlu juga, Misalnya saat saya ke dokter sendiri, awalnya dokter memandang saya "rendah", tidak akan mengerti penjelasan beliau, hanya karena saya tidak bekerja. Mungkin menurut beliau, orang yang tidak bekerja itu karena tidak berpendidikan. Apalagi saya cuma pendatang dari negara dunia ke tiga :( Setelah saya jelaskan bahwa saya punya pendidikan yang cukup untuk memahami perkalian dasar (yups, betul, saya dianggap tidak memahami pengetahuan sesederhana itu!) dan mengapa saya tidak bekerja, baru beliau berubah pandangan. Tapi saya dah kadung bete duluan tuh... Hehehe.... Maaf jadi curhat... :D Pertanyaan saya; bagaimana cara memperkenalkan diri, berikut atribut2 kita (pekerjaan, jabatan, pendidikan), agar orang lain bisa melihat kapasitas kita, tanpa menimbulkan kesan menyombongkan diri? (Al, Cannes-Prancis)

Jawaban :
Kesan pertama adalah timbul dari penampilan. Kadang-kadang orang yang smart tidak terlihat smart karena penampilannya. Kita dapat memperkenalkan diri kita dengan orang lain secara tidak langsung, misalnya bertanya kepadanya, (Anda mengambil dokter umum dimana dulu?). Kita tanggapi jawabannya dengan mengatakan (Saya juga punya teman kuliah disitu). Sehingga ada kesan bahwa kita juga orang yang berpendidikan. Ketika kita tidak bekerja atau berkarir diluar rumah, perlihatkan bahwa menjadi Ibu raumah tangga adalah pekerjaan yang luar biasa hebatnya. Jaga penampilan yang tak kalah dengan wanita yang bekerja. Berbicar alah dengan nada yang tidak tinggi, bercanda dan sesekali memakai jook-jook setempat. Segala sesuatu akan tampak dari penampilan kita, dari wajah kita yang semua itu berasal dari hati kita. Jadi datang dari nergara yang berkembang atau dari negara ke-3 harus dikesampingkan. Munculkanlah dahulu bahwa diri kita sudah maju meski berasal dari negara yang berkembang. Ketika orang tersebut sudah mulai merendahkan kita, maka kitapun boleh sombong asal kesombongan itu masih dalam garis kebenaran atau tidak berbohong.

Pertanyaan 6

Dalam makalah Ibu disebutkan bahwa untuk menjadi pribadi yang menarik, kita harus dapat menjaga perasaan orang lain. Apa yang harus kita lakukan untuk dapat menjaga perasaan orang lain tapi juga tidak menyakiti diri sendiri? Berdasarkan pengalaman saya pribadi dalam menghadapi beberapa masalah dalam pergaulan, demi menjaga perasaan orang lain terkadang saya harus mengalah walau saya tahu saya tidak melakukan sesuatu yang salah (Iv, Padova-Italia)

Jawaban :
Ketika kita menyatakan mengalah, hal ini bukanlah berarti kalah atau menang. Akan tetapi memberikan kesempatan pada otak kita untuk berpikir bagaimana caranya agar kita lebih menghargai diri kita sendiri setelah kita menghargai orang lain. Kalau kita ingin melihat perasaan orang lain, maka coba pulangkan atau kembalikan ke diri kita seolah-olah kita menjadi orang itu. Sehingga kita akan berpikir berkali-kali untuk harus menyakiti orang lain, karena kita bisa merasakan sakitnya jika kita disakiti juga.

Pertanyaan 7

Apa yang harus kita lakukan bila ingin menjadi orang yang positive thinking tapi juga waspada? (hal ini berkaitan dengan berkenalan dengan orang baru dimana kita biasanya percaya apa yang dia katakan dan lakukan padahal mungkin saja dia memiliki hal tersembunyi) . Jujur...hal ini sering terjadi pada saya, karena terlalu positive thinking dan muda h percaya terkadang saya dimanfaatkan oleh orang lain yang berniat jahat (Iv, Padova-Italia)

Jawaban :
Thinking positively adalah sebuah hal yang membuat diri kita positif. Ketika kita memberikan hal positif terhadap orang lain, kita tidak perlu lagi berpikir apakah yang kita lakukan itu sudah benar atau salah. Dua hal tersebut sangat berlainan. Misalnya ketika kita berniat membantu orang lain (masalah keuangan misalnya), jangan berpikir negatif lagi tentang orang itu. Curiga dan waspada sangatlah tipis bedanya, waspada dapat berubah menjadi curiga dan ini akan meurusak pergaulan. Ketika kita tahu bahwa orang itu sudah menyakiti kita maka harus kita jauhi tanpa harus memutuskan hubungan silaturrahiim. Berusahalah memilih teman, yaitu teman yang dapat membawa kita ke arah yang positive.

Pertanyaan 8

Bagaimana caranya untuk melakukan evaluasi diri? (Iv, Padova-Italia)

Jawaban :
Ada dua hal yang dapat kita lakukan untuk evaluasi diri. Pertama, Merenung dan bermunajat kepada Tuhan, bagi yang muslim Qiaymul lail (tahajjud). Minta ampun kepada Allah apa saja dosa yang telah kita lakukan seharian tadi. Kedua, ada baiknya kita mempunyai sekelompok kecil teman-teman, bertiga atau berempat yang mana satu sama lain saling mengingatkan, memberi kritik dan jalan keluar.

Pertanyaan 9

Mbak Ratih yang baik, tema yang diangkat sangat menarik sekali. Saya ada pertanyaan nih Mbak. Bagaimana ya Mbak cara memberikan arahan positif kepada rekan kerja yang selalu memiliki alasan dalam penyelesaian tugasnya. Contohnya, Atasan memberikan tugas yang harus segera diselesaikan dalam kurun waktu tertentu. Ketika waktu tersebut tiba, dan pekerjaannya belum selesai, ada saja alasan yang diberikan, misalnya ada tugas lain yang berbarengan. Atau, ketika pekerjaan tersebut selesai, selalu tidak lengkap -dan inipun ia akui sendiri-, alasan yang diberikan adalah, pusing untuk melengkapinya. Kinerja yang seperti inipun sudah "diakui" oleh rekan-rekannya yang lain dan atasan-atasannya. Bagaimana cara terbaik dalam menyikapinya ya Mbak, jika posisinya sebagai rekan dan atasannya? (Mil, Bekasi-Indonesia)

Jawaban :
Jika sesuatu terjadi berulang-ulang berarti itu sudah menjadi karakter dari seseorang. Sebagai seorang tema tentu saja kita harus membantu memperbaikinya dengan cara lakukan tatap muka 6 mata atau bertiga. Sebaiknya dia, kita dan atasan. Disini kita jelaskan kondisi yang sebenarnya sehingga dia paham denga kekeliruannya dan paham akan sistematika kerja yang baik. Kalau seseorang tidak selesai tugasnya itu berarti ada dua kemungkinan. Pertama, Sebenarnya dia tidak sanggup dengan tugas itu, sehingga seharusnya bukanlah dia yang mengerjakannya. Kedua, Tidak punya waktu, hal ini bisa saja terjadi karena manajemen waktunya yang kurang baik.

Pertanyaan 10

saya sering kali mendapatkan kritikan atau masukan dari teman2 saya agar berbicara jangan terlalu cepat dan memperhatikan intonasi dll. Bagaimanakan caranya melatih dan menerapkan hal tersebut? karena saya sering menghadapi masalah (terutama jika berbicara bahasa asing) lawan bicara saya sering mengalami kesulitan jika saya terlalu cepat berbicara (Sp, Aalen-Jerman)

Jawaban :
Komunikasi efektif adalah tidak banyak yang kita bicarakan, akan tetapi orang bisa mengerti banyak akan maksudnya. Akan sangat membosankan bila kita berbicara tanpa memperhatikan intonasi. Intonasi diperlukan untuk penekanan pada maksud-maksud tertentu. Mulailah berbicara pelan-pelan seolah-olah kita sedang mengisi sebuah cerita dengan menggunakan intonasi-intonasi yang pas. Jika pembicaraan mulai tersa membosankan maka mulailah untuk banyak mendengarkan. Mintalah teman untuk selalu mengingatkan kita jika kecepatan bicara mulai meningkat atau sudah tidak memperhatikan intonasi.

Pertanyaan 11

Di bahasan mengenai Etiket Pergaulan disebutkan supaya menghindari tidak menguasai etiket di meja makan. Dalam pemahaman saya salah satu contoh misalnya ketika kita akan menyantap hidangan steak, tangan kanan kita memegang pisau dan tangan kiri memegang garpu. Sementara kita disunnahkan untuk makan/menyuap dengan tangan kanan. Menurut Mbak Ratih, lebih terlihat "elegan" yang mana.. Tetap memegang pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, lalu memotong daging steak kecil-kecil, kemudian memindahkan garpu dari tangan kiri ke tangan kanan untuk menyuap.. Atau sebaliknya, garpu di tangan kanan dan diusahakan memotong daging dengan tangan kiri? Maaf ya, Mbak.. kalau pertanyaannya terlalu teknis (Dn, Darmstad-Jerman)

Jawaban :
Ada dua jenis etika di meja makan secara internasional sesuai dengan pertanyaan diatas. Pertama, Pisau di tangan kanan dan garpu ditangan kiri, menyuap makanan tetap dengan tangan kiri. Kedua, Pisau ditangan kanan dan garpu ditangan kiri, lalu potong steak menjadi 3 atau 4 bagian. Lalu letakkan pisau, suaplah dengan tangan kanan menggunakan garpu. Dalam memenuhi undangan, dari awal sebaiknya kita sudah memberitahukan tuan rumah tentang kondisi kita, misalnya kita tidak makan babi atau tidak minum alkohol.

Pertanyaan 12

Terkadang saya merasa kurang percaya diri ketika ada yang bertanya apa saja keahlian yang saya punya. Bagaimana kiatnya untuk mengatasi hal tersebut? Dan bagaimana caranya untuk mengetahui bakat terpendam yang masih belum teroptimalkan?(Dn, Darmstad-Jerman)

Jawaban :
Ketika kita memberikan informasi tentang keahlian kita dengan orang lain, ada hal-hal yag bisa kita lakukan diantaranya adalah dengan mencoba membalikkan pertanyaan kepada orang tersebut. Misalnya, (dalam bidang kewanitaan atau dalam bidang yang lain?). Kalau dalam bidang kewanitaan misalnya (Saya jago memasak). Kalau dalam bidang yang lain misalnya (Saya bisa bermain catur, Jika nanti saya kerumah anda, Saya akan mengajarkan anda bermain catur).

Cara mengetahui bakat terpendam dalam diri kita adalah dengan mengetahui kesenangan-kesenangan kita. Apa yang kita senangi atau hal-hal apa saja yang membuat kita tertarik, berarti sebenarnya itu adalah hal-hal yang dapat dikembangkan menjadi hal-hal yang produktif. Yang terpenting adalah rasa percaya diri akan kemampuan yang kita miliki.

Diakhir acara Ibu Ratih Sanggarwati menyempatkan diri untuk membacakan sebuah puisi yang ditulisnya sendiri pada tahun 2004. Berikut catatan puisinya :

BILA IBU BOLEH MEMILIH

Anakku,.
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu.
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak,. engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu
kecewa dan berurai air mata.

Anakku,.
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus
berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah. saat paling membahagiakan
Segala sakit dan derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku,.
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan
dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,.
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku.
Hidup memang pilihan.
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak.
Maafkan ibu.
Maafkan ibu.

Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak.
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak.
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu.

Ratih Sanggarwati (Ratih Sang)
Jakarta, 21 Agustus 2004

*dituliskan kembali oleh: Yumilda Hanifah

Last Updated on Monday, 08 March 2010 05:32
 
 

Kolom BSI

Seri ini dirancang untuk memperkenalkan pada anak tentang tata cara islami dalam bermasyarakat, yang berdasarkan hadis dan Quran. Dengan bahasa yang komunikatif, buku ini mengajak dan membimbing anak-anak untuk memahami makna akhlak yang baik, hukum Islam dan ibadah yang benar. Disajikan dalam dua bahasa dan ilustrasi yang menarik.

Selengkapnya di: bsikharisma.multiply.com

Kolom Apresiasi

Seminar Online bulan Juni 2009 yang mengangkat tema tentang Manajemen Konflik dalam Keluarga menghadirkan seorang nara sumber dari Yogyakarta Ibu Siti Urbayatun, S.Psi, M.Psi. beliau merupakan salah satu dosen di fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan, konsultan di eramuslim.com dan merupakan Komisaris di Lembaga psikologi terapan Cahaya Ummat Yogyakarta. Kesibukan yang padat tidak mengurungkan niat beliau untuk meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Saat ini beliau terdaftar sebagai mahasiswi program Doktor Fakultas Psikologi UGM.